Minggu, 01 Maret 2026

Sejarah

Sejarah

Desa Labuadago bermula dari pemukiman Soilora yang didirikan sekitar tahun 1913, terletak di antara desa Tagolu dan Maliwuko. Penduduk Soilora hidup harmonis, namun kehidupan mereka terganggu oleh tindakan pelanggaran adat yang dilakukan oleh seorang tokoh bernama Papa Guawe. Setelah bencana alam yang dianggap sebagai peringatan, penduduk dipindahkan ke Barodo atas perintah kepala distrik Belanda pada tahun 1916.

Setelah beberapa tahun, penduduk Barodo juga dipindahkan ke Gunung Peta'a. Pada tahun 1919, mereka kembali berpindah ke utara Barodo dan menyatukan pemukiman menjadi Desa Peta'a. Pada tahun 1946, Desa Peta'a dan Solonca disatukan menjadi Desa Silanca, yang dihuni oleh berbagai suku dengan Bahasa Indonesia sebagai lingua franca.

Desa Silanca mengalami perkembangan di berbagai bidang, namun pada tahun 2002 terjadi konflik yang mengakibatkan kerusakan dan trauma di masyarakat. Meskipun demikian, perekonomian pulih seiring dengan situasi yang kondusif.

Pada tahun 2010, atas aspirasi masyarakat, dilakukan pemekaran desa. Nama desa baru yang terpilih adalah Labuadago, yang diresmikan pada 7 Mei 2013. Sebelum memiliki kepala desa definitif, Bupati Poso menunjuk Bapak Solideo Gloria Samaliwu sebagai Pejabat Sementara Kepala Desa. Meskipun terpisah, Desa Labuadago dan Silanca tetap menjaga kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keunikan dan Ciri Khas
Desa Labuadago memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi budaya maupun alam. Masyarakatnya masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang, serta mengembangkan kuliner lokal yang kaya rasa. Keindahan alam sekitar juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana pedesaan yang asri.

Pengunjung

Hari Ini 19
Minggu Ini 76
Bulan Ini 19
Tahun Ini 535

Lokasi Kantor Desa